Home » Bisnis » Menghadapi New Normal, Toko Kitab di Banjar Laris Manis Sejak Pesantren Mulai Aktif

Menghadapi New Normal, Toko Kitab di Banjar Laris Manis Sejak Pesantren Mulai Aktif

Setelah diberlakukan pembatasan sosial berskala besar, pendidikan pesantren mulai diaktifkan kembali. Sebelumnya, terkait pembukaan kegiatan belajar di lembaga pendidikan pesantren sempat mendapat tanggapan dari polres untuk mengikuti anjuran pemerintah. Setelah mendapatkan persetujuan dari pemerintah, akhirnya pesantren diperbolehkan aktif. Hal ini ternyata berdampak positif bagi para pemilik toko kitab di Banjar, berikut ulasannya.

Pengakuan Pemilik Toko Kitab Mengenai Peningkatan Penjualan Kitab

Ditetapkannya new normal di Banjar memberikan keuntungan bagi para pemilik toko buku dan kitab. Pasalnya pendapatan mereka mengalami peningkatan terutama setelah beberapa pesantren diaktifkan kembali. Hal ini Sebagaimana diberitakan oleh Portal Berita Kota Banjar, salah seorang pemilik toko buku dan kitab yaitu Samsul Iskandar mengatakan jika tokonya mulai ramai dalam dua hari terakhir.

Selain itu, ia juga mengatakan jika kitab pesantren selalu laris seminggu sebelum sekolah formal diaktifkan. Mengingat para wali santri harus menyiapkan kita bagi anaknya yang akan mengikuti kegiatan di pondok sembari menuntut pendidikan di sekolah formal. Beberapa kitab pesantren yang sering terjual diantaranya kitab Syafi’iyah seperti Sulamut Taufik, Juz Amma, Safinatun Najah, dan Bulughul Maram. Sebelumnya pesantren biasanya memesan kitab ke Kebumen, Jawa Tengah.

Namun, saat ini pesantren tidak bisa memesan di Kebumen dikarenakan wilayah tersebut masih menerapkan PSBB. Dengan demikian, pesantren akhirnya memesan di sejumlah toko buku dan kitab yang ada di Banjar. Berbeda dengan penjualan kitab yang sudah ramai satu minggu sebelumnya, penjualan alat tulis untuk keperluan sekolah biasanya baru ramai dua hari sebelum sekolah aktif, tepatnya pada hari Sabtu atau Minggu mengingat anak anak biasanya baru masuk di hari Senin.

Meningkatnya penjualan kitab juga diikuti dengan peningkatan pendapatan. Bahkan hanya dalam dua hari, pendapatan toko bisa mencapai sepuluh juta rupiah. Padahal pada hari biasa, pendapatan sehari paling tinggi hanya sekitar dua juta rupiah. Toko miliknya yang sudah dibangun sejak 25 tahun lalu menerima penjualan grosir serta eceran. Selain Samsul, pemilik toko kitab di Banjar yang lain juga mengaku hal serupa sejak dua bulan terakhir.

Muhammad Kamil yang juga memiliki toko buku dan kitab mengatakan jika banyak kitab pesantren yang terjual seperti kitab Ta’lim Muta’alim, Tanqihul Qoul dan Safinatun Najah. Tak hanya kitab, penjualan kopiah juga mengalami peningkatan khususnya untuk anak Diniyah. Kendati demikian, peningkatan penjualan saat ini tidak seramai saat masuk tahun ajaran seperti tahun sebelumnya mengingat saat ini terjadi wabah virus COVID 19.

Dampak virus  COVID 19 memang sangat berimbas pada perekonomian masyarakat Banjar terutama pedagang keliling yang biasanya menjual di sekolahan. Karena sektor pendidikan hanya diperbolehkan secara daring, sehingga anak anak tidak perlu ke sekolah. Namun, bagi para pedagang keliling yang sebagian besar pembelinya dari kalangan anak sekolah, tentu hal ini juga berimbas pada jumlah pembeli yang semakin menurun dan pendapatan yang semakin berkurang.

Sebelum Diaktifkannya Pesantren di Banjar Saat New Normal

Sebenarnya pihak pesantren sudah berencana mengaktifkan kegiatan di pondok sejak bulan Juni. Pihak pondok pesantren juga mengajukan permohonan agar kegiatan belajar di Pesantren diperbolehkan oleh pemerintah. Namun, Tim Gugus Tugas Covid 19 segera melakukan koordinasi untuk menyamakan persepsi dengan pengasuh pondok pesantren. Mengingat rencana kedatangan para santri yang berasal dari berbagai penjuru tanah air akan kembali ke pondok.

Setelah adanya koordinasi dari Tim Gugus Tugas Covid 19, akhirnya pihak pondok pesantren menyepakati untuk mengikuti kebijakan dari pemerintah. Akhirnya kegiatan di pondok untuk sementara ditunda terlebih dahulu sehingga arus balik para santri dit. Selain itu, pihak pengasuh pondok juga meminta agar dilakukan rapid test untuk para santri jika nantinya diaktifkan kegiatan di pondok pesantrean untuk menjamin kesehatan mereka.

Lembaga pendidikan pesantren memang cukup berbeda dengan lembaga formal seperti sekolah. Pendidikan di pondok pesantren lebih mengutamakan  pada pendidikan agama islam. Berbeda dengan kurikulum di sekolah yang memang mengacu pada dinas pendidikan, setiap pesantren memiliki cara tersendiri untuk mendidik para santrinya. Meskipun demikian, pengajaran tidak bisa terlepas dari kitab kitab agama seperti Ta’lim Muta’alim, Najah, dan Bulughul Maram.

Maka dari itu toko kitab di Banjar sebagian besar letaknya tak jauh dari pondok karena memang target pemasaran lebih banyak ke anak anak pondok. Meskipun termasuk toko kitab, namun pemilik toko biasanya melakukan diversifikasi produk dengan menjual buku dan peralatan tulis. Jadi target pemasaran lebih luas dan tidak hanya anak pondok pesantren saja. Selain itu, karena memang biasanya yayasan pondok pesantren juga menyediakan sekolah untuk pendidikan formal.

Sebenarnya jenis kitab yang diajarkan di pondok pesantren sangat banyak sekali. Itulah mengapa kitab yang biasanya dijual juga sangat beragam jenisnya. Untuk kajian fikah saja terdiri dari beberapa tingkatan seperti At Taqrib, Fathul Qorib, Tausyih, hingga Fathul Mu’in. Sedangkan untuk mempelajari ilmu nahwu terdiri dari beberapa kitab dengan kitab paling dasar yaitu kitab Al-Jurumiyah kemudian dilanjutkan dengan Imrithi, Mutammimah dan paling tinggi Alfiyah.

Jika mendalami ilmu hadits, maka lain lagi kitab yang dibaca yaitu Musthalah Al Hadits yang mempelajari seluk beluk ilmu hadits mulai dari macam macam hadist hingga syarat orang yang berhak meriwayatkan hadits. Sedangkan Kitab Ta’lim Muta’alim membahas tentang akhlak yang wajib dimiliki oleh para pencari ilmu khususnya santri. Dengan mengamalkan apa yang diajarkan ada kitab ini, diharapkan ilmu yang diterima para santri lebih bermanfaat dan barokah.

Memang para santri mudah menemukan kitab seperti saat mengunjungi toko kitab di Banjar. Mereka pun juga membeli kitab di toko tersebut. Namun, berbeda dengan buku sekolah atau kitab lainnya yang bisa dibaca sendiri, kitab yang dibeli ini harus dikaji dengan seorang guru di pondok. Pemahaman para santri tidak cukup jika hanya membaca buku sendiri. Bahkan bisa saja pemahaman terhadap kitab tersebut menjadi salah.

Pesantren yang mulai aktif memberikan keuntungan bagi para penjual kitab di Banjar. Mengingat para santri memang selalu membutuhkan sejumlah kitab ketika hendak masuk ke pondok pesantren. Peningkatan penjualan kitab ini juga dikarenakan banyak pesantren yang akhirnya memesan di toko kitab tersebut. Hal ini dikarenakan pesantren tidak bisa memesan kitab di  Kebumen yang saat ini masih diberlakukan masa PSBB.